Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 Agustus 2020

Guru Bidin (1911-1978) Pegawai Negeri Pertama dari Kampung Peradong

 



Guru Bidin atau guru Pidin adalah guru pertama di sekolah rakyat (SR) kampung Peradong. Nama lengkap beliau adalah Idin bin Sja'ban lahir di kampung Peradong pada tanggal 5 Agustus 1911 dan ia wafat pada tanggal 18 Juni 1978. Ia mengajar tidak hanya di kampung Peradong saja. Sebagaimana guru pada umumnya yang berpindah-pindah, ia pernah mengajar di Berang, Mancung dan lainnya.



Ia menikah dengan seorang perempuan bernama Madjidah pada tanggal 24 November 1936. Istrinya Madjidah lahir pada tanggal 21 Maret 1917 dan wafat pada tanggal 11 Desember 1984.


Guru Bidin pensiun pada tahun 1968 berdasarkan surat Nomor Kep 2/230/4 tanggal 9 Mei 1968 terhitung Agustus 1967. Waktu itu pensiun sebagai Guru Putra Tk I. Untuk tahun pengangkatannya sebagai pegawai negeri, penulis belum menemukan informasi dan dokumen terkait hal tersebut.



Pensiun Guru Putra Tk. I (Gol.D/III PGPN -1961 sederajat dengan Gol.II/b PGPS-1968) pada SD Garadang Kab. Bangka di Pangkalpinang dengan besaran 36% dari Rp. 1723,- (gaji menurut PP 200/1961 Gol.D/III) ialah Rp. 623,- sebulan yang menurut PP No.18 tahun 1967 dinaikan menjadi Rp. 935,- sebulan, kemudian pada tahun 1974 ditetapkan menjadi Rp. 1100,- sebulan berdasarkan PP No. 8 tahun 1974. Kemudian pada tahun 1977 disesuaikan menjadi Rp. 16.300,- sebulan berdasarkan PP No. 8 tahun 1977.



Tulisan beliau tentang kelahiran anak pertama ketika beliau masih bertugas dan mengajar di Mancung (Kecamatan Kelapa) yang berbunyi "Hijrah nabi shallallahu 'alaihi wassalam, yaitu kepada hari Jum'at tanggal 1 hari bulan Dzulqaidah 1357 jam pukul 8 pagi bersetuju dengan tanggal 23 November 1938 pada masa itulah istri saya nama Afiyah (Madjidah) melahirkan seorang anak perempuan nama Fatmah di Pangkal Menggarau (peradong) adanya. Guru Mancung".


Parittiga, 29 Agustus 2020

Suryan Masrin 




Selasa, 21 Juli 2020

Rumus Menulis Buku Ala Melenial



Berbagai macam trik dan tips dalam menulis acap kali menjadi pembahasan yang diberikan oleh para penulis senior guna memberikan kemudahan dalam dunia kepenulisan, terkhusus bagi pemula yang mulai berkenalan dengan dunia tulis menulis. Ini bukan lagi barang baru di dunia kepenulisan. Para penulis hanya mencoba berbagi pengalaman menulis yang telah menjadi passion-nya. Berharap, pengalaman tersebut dapat memotivasi para penulis atau yang tertarik dengan dunia kepenulisan. 


Nah, kali ini saya juga ingin membagikan 'rumus menulis', tapi bukan dari pengalaman pribadi saya, melainkan pengalaman dari penulis buku best seller "Man Jadda Wajada, Ketika Sukses Berawal dari Pesantren, UKTUB: Panduan Lengkap Menulis Buku dalam 180 Hari, dan beberapa buku lainnya". Dalam momen Belajar Menulis Daring bersama Om Jay dan PGRI via whatapps grup, Senin (20/07/2020).


Beliau adalah Akbar Zainudin, seorang pengajar dan trainer. Terkadang beliau mengajar di sekolah, pesantren, perguruan tinggi, instansi pemerintah, dan juga swasta. Materi yang dikuasai berkisar pada motivasi; motivasi belajar, motivasi menulis, motivasi bekerja, motivasi mengajar, motivasi berwirausaha, dan motivasi hidup. 


Salah satu titik penting yang melejitkan perubahan beliau pada saat menulis buku yang pertama, "Man Jadda Wajada". Dari situ beliau mulai bergerak lebih jauh mengembangkan Man Jadda Wajada menjadi buku dan materi pelatihan. Dari Man Jadda Wajada-lah akhirnya yang membuat beliau bisa berkeliling ke-33 Provinsi di Indonesia. Satu provinsi yang belum adalah Papua.


Mengapa mesti menulis?

1. Tidak ada kegiatan yang langsung berkaitan dengan kemampuan mempertahankan otak kita selain membaca dan menulis. 

2. Menulis adalah tentang kebahagiaan. Kalau kita tumpahkan semuanya dalam tulisan, indah sekali hidup ini. 

3. Menulis buku itu warisan terbaik kita. Di situ kita bisa cerita apa saja. Harapan kita, "unek-unek" perasaan kita. Bebas saja menulisnya. 

4. Menulis adalah tentang berbagi kebaikan. Jika kebaikan itu bisa dibagi, terus menerus dibaca orang, kebaikan itu akan terus menjadi pahala, bahkan kalau nanti kita sudah tiada. 

5. Menulis itu membuat kita lebih sehat. Kita setiap hari bangun dengan semangat baru, ada target baru yang harus kita selesaikan. Apalagi yang menyenangkan hidup kita selain bersemangat setiap hari?


Rumus TOJTRP

Ada enam langkah/rumus yang sudah diringkas materinya menjadi singkatan TOJTRP: Tema, Outline, Jadwal, Tulis, Revisi, dan Penerbit.


Pertama, T. Tentukan TEMA tulisan. Setiap buku harus punya tema besar, baik buku fiksi maupun non fiksi. Tema akan menjadi rel yang mengikat kita dari awal tulisan hingga akhir. Tema ini satu saja. Misalnya kerja keras, romantisme, cara belajar, dan sebagainya. 


Bolehkah satu orang menulis berbagai tema buku? Menurut Akbar Zainuddin, karena ini terkait dengan “branding”, berusahalah untuk fokus menulis satu tema tertentu, agar kita dikenal ahli dalam tema tersebut. Kalau temanya berubah-ubah, nanti orang bingung, kita ini sebenarnya ahli dalam bidang apa?


Pilihlah tema:

1. Yang kita kuasai,

2. Yang kita senangi. 


Kalaupun tidak kita kuasai sekarang, kalau kita senangi kita akan mau bekerja keras mencari bahan-bahan yang bisa buat kita tulis. Apakah ke perpustakaan, mencari di internet, bertanya dengan para ahli, dan sebagainya. 


Tentukan saja temanya, buat kerangkanya, dan mulailah menulis. Ketakutan-ketakutan itu seringkali hanya ada pada pikiran kita. Kalau sudah kita mulai menulis, InsyaAllah ketakutan-ketakutan itu akan hilang. Pasti ada jalan keluar. Jadi, tidak usah bingung menentukan tema. Tentukan saja, lalu tuliskan. 


Kedua, O. Buatlah OUTLINE atau DAFTAR ISI. 

Gunanya outline:

1. Agar tulisan kita terarah.

2. Bisa buat jadwal dan target.

3. Menghindari "ngeblank" pada saat menulis. 

4. Agar bukunya selesai. 


Kalau tidak ada daftar isi, akan sulit bukunya bisa selesai. Inilah salah satu hal penting yang sering diabaikan orang. Merasa sudah tahu apa yang ditulis, akhirnya tidak ada outline dan langsung menulis. Akibatnya, tulisannya tidak terarah, “melenceng” dan “lari” ke mana-mana, tidak tahu jalan akhirnya. 


Bukunya akan selesai? Tentu tidak. Banyak ide itu bagus, tetapi yang jauh lebih bagus adalah ide yang difokuskan. Cara memfokuskan ide adalah dengan membuat outline. 


Strategi Membuat Outline

Untuk non fiksi

Gunakan prinsip dasar 5W dan 1H.


WHAT: 

Ini terkait pengertian, definisi, pembagian, jenis-jenis, dan sebagainya. 


WHY:

Ini adalah tentang alasan (mengapa) buku ini ditulis, tujuannya apa dan manaatnya apa. 


HOW

How ini berbicara tentang bagaimana, tips and trick, strategi, langkah-langkah, dan sebagainya. 

Untuk 2 W yang lain, yaitu Where dan When bisa tidak digunakan. 


CONTOH. 


Tema: Santri dan Menulis


WHAT

1. Santri dan keterampilan menulis. 

2. Keterampilan apa saja yang dibutuhkan agar bisa menulis.

3. Para ulama dan karya mereka dari masa lampau.

4. dan seterusnya. 


MENGAPA?

1. Mengapa Santri Harus Menulis?

2. Tujuan Menulis.

3. Tantangan Mengapa Santri Harus Bisa Menulis.

4. dan seterusnya.


HOW?

1. Bagaimana cara menulis?

2. Bagaimana membangun disiplin menulis?

3. Tips and Tricks Menjadi Penulis.

4. dan seterusnya.


Untuk fiksi


Pertama: WHO? Siapa saja tokoh-tokohnya. 


Tentukan tokoh-tokoh yang akan menjadi bagian dari cerita.


Misalnya, ayah, ibu, teman, guru, dan sebagainya. 


Kedua: Karakter.

Gambarkan profil setiap tokoh dengan sifatnya masing-masing. 


Ketiga: Plot atau Alur Cerita.

Gambarkan alur cerita dari awal hingga akhir. Potongan ceritanya seperti apa. Di mana akan membangun cerita emosionalnya, di mana sedihnya, di mana senangnya. Terus ending cerita seperti apa, apakah happy ending, sad ending, dan sebagainya.


Membuat outline ini bisa langsung dituliskan outlinenya atau bisa dengan beberapa alat bantu, misalnya menggunakan mindmap untuk membantu membuat daftar isi. Apakah wajib? Tidak harus, tetapi ini harus ada. Biar ada rel ke mana tulisan kita, biar selalu ada arah kalau kita menemui jalan buntu, dan ini yang paling penting; bisa membuat jadwal agar buku cepat selesai.


Ketiga, J. Buatlah jadwal penulisan.

Kalau daftar isi sudah dibuat, misalnya ada 30 judul artikel atau plot cerita, mulailah membuat jadwal secara riil. Misalnya 1 tulisan jadwalnya seminggu selesai, buatlah jadwalnya dari 30 tulisan itu kapan mau selesai. Dengan kita membuat jadwal, maka akan memudahkan kita untuk mengontrol dan mengevaluasi dari hasil tulisan kita.


Membuat Jadwal

1. Buatlah tabel dengan 4 kolom, yang berisi No-Judul Artikel-Target Lama Menulis-Tanggal-Keterangan

2. Isi Nomer 

3. Isi Judul Artikel

4. Perkirakan Berapa Lama (Berapa Hari) Artikel akan Ditulis

5. Buat sesuai dengan tanggal yang ada saat ini. 

6. Isi Keterangan dengan apakah sudah selesai ditulis atau belum.


Jadwal menulis ini menentukan. Kalau ada jadwal, kita bisa mengacu pada jadwal tersebut dan bisa mendisiplinkan diri sendiri. Karena kita tahu di mana akhirnya, kapan draft naskah kita akan selesai. Kalau tidak ada jadwal, kita tidak pernah tahu perkiraan draft naskah kita kapan selesai.


Keempat, T. Tuliskan

Outline sudah ada, jadwal juga sudah ada. Berikutnya adalah tuliskan sesuai outline dan jadwalnya. Di sini, disiplin diri dan komitmen yang akan menentukan apakah tulisan kita akan selesai atau tidak. 


Tulis dan selesaikan semua judul artikel terlebih dahulu. Jangan terpaku untuk satu tulisan sampai sempurna.


Kelima, R.  REVISI

Revisilah tulisan kalau semua draft tulisan sudah selesai. Jangan terpaku hanya satu judul sampai sempurna. Kalau kurang-kurang sedikit, tidak apa-apa. Tahap pertama adalah menyelesaikan semua draft buku. Tahap kedua, baru revisi. 


Apa saja yang direvisi?

1. Data dan informasi yang kurang. 

2. Tata Bahasa

3. Gaya Tulisan. Disamakan dari awal hingga akhir. 

4. Judul-judul artikel. Buatlah judul-judul yang menarik.


Keenam, P. kirim ke penerbit


Apa yang menjadi  pertimbangan penerbit?


Paling utama adalah bukunya laku atau tidak. Ini menyangkut kebutuhan masyarakat pembaca. Apakah pembaca butuh buku kita? Siapa yang butuh? Berapa banyak orang yang butuh? 

Buku kita menjawab kebutuhan apa?


Semakin besar kebutuhan masyarakat akan buku kita, maka peluang diterbitkan semakin besar. Karena itu, sebagai penulis kita mesti memahami buku kita siapa yang akan beli, dan siapa yang kira-kira akan baca. 


Hal kedua adalah apa yang bisa membedakan buku kita dari buku sejenis. Apa kelebihan kita dibandingkan dengan buku sejenis? Kita harus mampu menjawab pertanyaan ini. Karena hal itu yang akan menjadi pertanyaan dan juga pertimbangan penerbit. 


Ketiga, pertanyaan penerbit adalah, apa yang akan Anda lakukan untuk membantu pemasaran buku? Harus punya jawabannya. Misalnya iklan di Medsos, Seminar, Pelatihan, Diskusi Buku, Membangun Komunitas, Dan Sebagainya. 


Apakah perlu membayar kepada penerbit? Kita tidak perlu membayar ke penerbit. Bahkan kita mendapatkan uang ROYALTI. Rata-rata royalti adalah 10% dari buku yang terjual. 


Bagaimana cara mengirim naskah?

1. Naskah harus sudah jadi. 

2. Diprint, dikirim dengan hard copy dan soft copy dalam bentuk CD atau Flash Disk


Berapa lama?

Kabar diterima atau tidak sekitar 3 bulan. Jadi harus bersabar.


Bagaimana kalau naskah buku ditolak?

Tidak apa-apa kalau naskahnya ditolak. Jangan sakit hati. Biasa saja. Jadikan evaluasi. Revisi, evaluasi, lalu kirim lagi. Bisa ke penerbit awal atau ke penerbit lain. 


Tugas kita itu menulis. Kalau naskah sudah jadi dan dikirim ke penerbit, biarkan saja naskah itu. Kita menulis lagi naskah buku berikutnya. Kalau nanti jawaban dari penerbit adalah diterima, alhamdulillah. Kalau ditolak, kita perbaiki, dan kirim lagi. 


Dan, kita juga punya naskah buku yang lain. Begitu seterusnya sehingga menulis itu akan terus menjadi kegiatan kita. 


Agar konsisten dan tidak kehabisan ide.

1. Banyak baca buku.

2. Latihan menulis setiap hari. Jadwalkan setiap hari menulis 15 menit saja. Disiplin. Nanti akan terlatih untuk bisa menuliskan berbagai ide secara baik. 

3. Ikut seminar dan pelatihan. 

4. Upload tulisan di blog dan medsos. 

5. Punya mentor menulis. 


Agar terus punya motivasi kuat

1. Bergabung dengan teman-teman penulis. 

2. Ikut seminar dan pelatihan. 

3. Baca buku-buku tentang menulis. 

4. Upload hasil tulisan di Medsos dan Blog.

5. Kalau ada lomba, ikuti. 

6. Punya target menerbitkan buku.

7. Buat Jadwal menulis setiap hari.

8. Punya mentor menulis.


Simpulan

Menulis itu tentang latihan. Bukan bagaimana Anda tahu bagaimana menulis sebanyak-banyaknya, tetapi bagaimana Anda berlatih sebanyak-banyaknya. Semakin banyak berlatih, tulisan kita akan semakin baik. Itu saja kuncinya. 


Mulai dengan tekad dan niat yang kuat untuk memperbaiki nasib dan hidup kita, serta untuk bermanfaat bagi orang banyak. Ikuti dengan membuat outline dan jadwal menulis, lalu konsisten menulis setiap hari. 


InsyaAllah hidup dan nasib kita akan berubah. Jadikan momentum kita naik kelas dan melesat lebih tinggi. Mudah-mudahan bermanfaat. 


Parittiga, 21 Juli  2020

Suryan Masrin 

Kamis, 16 Juli 2020

Cerdik Mengemas Kerangka Tulisan





Pada dasarnya setiap manusia itu pandai menulis. Tentu pernyataan ini tak sekedar omongan belaka. Flashback ke masa lalu, zaman pra sejarah, manusia pandai meninggalkan jejak melalui coretan di batu tanpa mengenal teori menulis. Beralih kembali ke masa kini, manusia yang tak mengenyam sekolah tentu pandai menulis. Mereka hanya sekedar menulis, juga tanpa mengenal teori menulis. Manusia yang sekolah sudah pasti pandai menulis dan mengenal teori menulis. Manusia yang sekolah dan berpengetahuan sudah barang pasti tak hanya sekedar bisa menulis, melainkan juga menghasilkan sebuah tulisan. "Menulislah, maka engkau akan dikenang" (Suryan Masrin).


Untuk masuk ke ranah terakhir, yakni bisa menulis dan menghasilkan sebuah tulisan musti melewati berbagai tahap dan proses yang harus dilalui. Oleh sebab itu, tulisan ini akan membawa kita pada arah tersebut, melalui ilmu yang disampaikan oleh Bapak Anwar Djaelani dalam Daring Belajar Menulis bersama Om Jay dan PGRI (Rabu,15/7/2020), yang kemudian saya kemasan dalam rangkuman dan resume. Tema yang diangkat oleh pak Anwar kali  ini  adalah "Cakap Menulis; Dari Artikel ke Buku".


"Menulis artikel adalah sebuah ketrampilan. Kita akan terampil jika rajin berlatih. Sikap giat berlatih akan muncul hanya jika ada motivasi yang kuat. Bagi umat Islam, misalnya, motivasi bisa muncul dari keinginan untuk mengamalkan QS Al-Alaq 1-5. Di situ, ada petunjuk agar kita aktif membaca sekaligus ada pula rangsangan untuk gemar menulis".


Semangat bisa semakin tinggi jika melihat fakta menarik di sekitar kita. Bahwa, aktif menulis artikel bisa bermuara kepada lahirnya buku demi buku. Terampil menulis artikel dapat bermuara untuk juga pada  cakap menulis buku. Untuk menajamkan keterampilan menulis itu harus dilakukan beberapa hal;


  1. Perlu pembiasaan; sering-seringlah menulis, apapun itu, nanti akan terbiasa dan menjadi kebiasaan.

  2. Banyak membaca; membaca  adalah modal utama penulis. Dengan sering membaca seseorang akan, pertama, mendapatkan pengetahuan / wawasan baru. Kedua, terbit ide untuk menulis sesuatu sebagai pengembangan dari apa yang sudah dibacanya. Ketiga, kaya dengan perbendaharaan kata.

  3. Bersemangatlah di saat menulis; sungguh, tulisan itu sangat besar pengaruhnya. Lihat ungkapan salah seorang pendiri Pesantren Gontor, KH Imam Zarkasy (1910-1985) berikut ini. Bahwa, andai tak punya murid, “Saya akan mengajar dunia dengan pena”.  


Artikel adalah sebentuk karya tulis.

Mari, maju dengan menulis, tema untuk dikembangkan menjadi artikel cukup mudah kita dapatkan karena banyak tersedia di sekeliling kita. Tema bisa berasal dari isi koran, majalah, televisi, dan internet.


Tentang Niat dan Pembiasaan

Kita perlu membiasakan diri untuk terus menulis dan itu harus didasari pada sebuah niat yang benar. Tatalah niat kita lebih dahulu. Apa motivasi kita menulis?


Agar bisa dimuat di media

Tema tulisan harus aktual dan menarik perhatian publik. Jika dua hal itu sudah dipenuhi, maka syarat pertama agar artikel kita dimuat media sudah terpenuhi. Tinggal syarat yang lain seperti, misalnya, orisinalitas gagasan, kekuatan argumentasi, dan kecermatan berbahasa. Tema akan datang mengalir deras, terutama jika kita sudah membiasakan diri untuk menulis. Nyaris di setiap kita membaca, melihat, atau mendengar sesuatu yang “tak biasa”, biasanya lalu terbit ide untuk mengartikelkannya.


Langkah menulis


Setelah tema tulisan kita tetapkan, buatlah outline (kerangka karangan). Kemaslah sedemikian rupa outline tesebut. Langkah ini diperlukan sebelum kita menulis secara lengkap. Outline kita buat untuk memudahkan pengembangan penulisan.


Pada dasarnya, alur menulis itu terangkai dalam “Tiga Besar” yaitu pendahuluan, pembahasan, dan penutup. Di pendahuluan, kita sampaikan secara ringkas masalah apa yang akan kita bicarakan. Lalu, di pembahasan, kita urai dan analisis masalah yang kita paparkan di bagian pendahuluan. Kemudian, di penutup, berilah kesimpulan dan saran berdasarkan uraian dan analisis sebelumnya.


Contoh Outline


Tetap Berseri-seri Belajar di Masa Pandemi

  • Pandemi Covid-19, ujian bagi semua (1 paragraf)

  • Manusia selalu diuji dengan bentuk beragam (2 paragraf)

  • Sekilas Covid-19 (1 paragraf)

  • Dampak negatif Covid-19 secara umum (2 paragraf)

  • Dampak negatif Covid-19 di dunia pendidikan (3 paragraf)

  • Sudut pandang agama, bersama kesulitan ada kemudahan (2 paragraf)

  • Berbagai pilihan cara belajar di saat pandemi (4 paragraf)

  • Penutup / kesimpulan; Tetap optimis di situasi apapun (1 paragraf)  


Total, ada 16 paragraf


Perihal Judul Pemanggil


Judul yang baik, antara lain: a). Mampu mencuri perhatian pembaca. b). Mencerminkan tema / arah tulisan, sehingga bisa menjadi semacam miniatur isi keseluruhan tulisan. c). Ringkas dan padat. Sebagai sarana berlatih, seringlah memperhatikan judul-judul artikel di berbagai media.


Pertama, tentang “Lead Penggoda” 


Lead adalah pendahuluan berbentuk paparan ringkas dari masalah yang akan kita kupas. Posisi lead menempati paragraf pertama. Fungsi lead adalah penggugah rasa ingin tahu pembaca. Lead mengantar pembaca ke gagasan utama sang penulis.


Kedua, perihal “Pembahasan nan Menawan”


Di bagian ini, isinya berupa analisis atas masalah yang kita angkat. Pembahasan harus sistematis, argumentatif, tuntas, dan ditulis dengan bahasa baku namun tetap dengan sentuhan popular. Sangat dianjurkan, perbanyak membaca artikel karya orang lain.


Ketiga, tentang “Penutup yang Menggugah”


Bagian ini memuat kesimpulan dan/atau saran atas masalah yang kita kupas. Disajikan sekaligus dengan gaya pamit. Lihat contoh lead dan penutup berikut ini:


Judul: Guru Rajin Menulis dan Efek Besar Itu


Lead (menggoda dengan pertanyaan):


Pembuka

Semua orang, tanpa kecuali, harus menjadi pembelajar di sepanjang usianya. Maka, sungguh menyenangkan jika guru suka menulis. Amat membanggakan andai guru rajin menulis. Apa hubungan seorang pembelajar dengan posisi guru yang gemar menulis?


Penutup:

Sungguh, jadilah pembelajar tiada henti dengan cara menjadi guru yang penulis. Sungguh, duhai para guru, bersemangatlah untuk menjadi pahlawan yang berjasa karena banyak menghasilkan karya tulis. Karya-karya itu, semoga secara meyakinkan menginspirasi murid, orangtua murid, dan masyarakat luas. Indah!


Dari Artikel ke Buku


Selepas terampil menulis artikel, pekerjaan menulis buku bisa menjadi lebih gampang. Mereka yang sudah terbiasa menulis artikel akan lebih cekatan dalam menghasilkan buku. Namun ada beberapa hal yang harus diperhatikan; Pertama, saat harus merancang dan menulis buku. Tetapkanlah tema yang akan diangkat.

Buatlah Daftar Isi dan mulailah menulis.


Kedua, kala menghimpun artikel menjadi buku. Tulislah sebanyak mungkin artikel dengan tema sejenis. Misalnya, bertema pendidikan. Setelah, dirasa cukup untuk dijadikan buku, lakukan langkah: a). Edit ulang. Sering artikel menggunakan “bahasa Koran”, seperti “kemarin”, “pekan lalu”. Untuk itu, ubah dengan mencantumkan  tanggal kejadian yang dimaksud. b). Jika diperlukan, buatlah rubrikasi. Meski semua berada di rumpun pendidikan, mungkin masih bisa dikelompokkan lagi dalam bidang yang lebih khusus. Misal, ada rubrik “Spirit Pembelajar di Semua Musim”, “Menjadi Orangtua Sekaligus Guru”, “Betah di Perpustakaan Keluarga”, “Merancang Liburan Bernuansa Pembelajaran” dan “Belajar di Masa Pandemi”.


Menulis Resensi Buku


Resensi buku adalah ulasan kritis atas sebuah buku. Di dalamnya minimal berisi identitas buku yang dimaksud, ringkasan isi buku (dipilih bagian-bagian yang paling penting), dan penilaian objektif atas buku itu terkait kelebihan dan kekurangannya.


Panduan lengkap dalam menulis Resensi Buku. “Jawablah” sejumlah pertanyaan berikut ini. Tentu saja, jawaban ditulis dalam “gaya artikel”.  


  • Tulislah identitas buku

  • Apa isi ringkas buku? 

  • Apakah penulis memiliki kompetensi? 

  • Apakah buku itu didukung referensi memadai? 

  • Buku itu lebih ditujukan ke segmen pembaca mana? 

  • Adakah pengetahuan baru yang disodorkannya, atau sekadar repetisi (pengulangan) dari buku-buku yang sudah ada? 

  • Apa kelebihan dan kekurangannya. Misalnya, apakah mudah dipahami oleh semua kalangan? Bagaimana performa fisik buku, menarik? 

  • Tepatkah momentum kehadirannya?

  • Berhargakah untuk segera kita baca dan atau miliki?


Ada banyak keuntungan jika kita rajin menulis Resensi Buku. Di antaranya, di saat kita akan menulis buku akan lebih terbimbing karena sering mengkritik karya orang lain. Tentu saja, saat kita menulis buku, tak akan mengulang kesalahan-kesalahan yang telah dibuat oleh penulis-penulis lain.


Demikian tulisan ini disajikan. Semoga memberikan manfaat dan semangat bagi para guru untuk menjadi guru yang juga seorang penulis. Tak ada gading yang Tak retak. Menulislah, maka engkau akan dikenang. 


Mentok, 16 Juli 2020

00:11 WIB 

Suryan Masrin 

Jumat, 10 Juli 2020

Transformasi Digital dalam Dunia Penerbitan



"Menulislah,  maka engkau akan dikenang"
Suryan Masrin 

 


Pandemi yang tak berkesudahan memberikan dampak yang luar biasa bagi dunia penerbitan. Oleh karena itu, penerbit harus bertransformasi ke ranah digital marketing dalam bisnis penerbitan buku. 


Pentingnya transformasi digital ini merupakan efek dari Pandemi Covid-19 yang berkepanjangan, yang akhirnya telah  mengubah dunia menuju era low touch economy. Era ini ditandai dengan minimnya sentuhan fisik antar individu, keharusan mengecek kesehatan dan keselamatan, prilaku yang baru hingga pergeseran di sektor-sektor industri, terutama industri perbukuan. 


Perubahan ini (new normal), tentu akan berdampak ke banyak hal, mulai dari tempat bekerja, cara belajar-mengajar, kehidupan keluarga hingga aktivitas sosial. Strategi inilah yang kemudian mengharuskan  penerbitan beralih ke digital marketing.


Manfaat digital marketing 


  1. Biaya lebih murah dan relatif terjangkau 

  2. Daya jangkauan yang sangat luas 

  3. Mudah menentukan target pangsa pasar buku yang akan ditawarkan sesuai kategori

  4. Komunikasi dengan konsumen lebih mudah dan efisien 

  5. Mudah dievaluasi dan dikembangkan

  6. Lebih cepat populer

  7. Sangat membantu meningkatkan penjualan


"Menulis adalah berjuang, penulis adalah pahlawan yang akan dikenang selama-lamanya. Lembaran karya adalah medan pertempuran, pena adalah senjatanya. Buku adalah gudang ilmu, kuncinya adalah membaca. Membaca adalah jendela dunia".


Semua harus ditulis, apapun itu. Jangan takut tidak dibaca atau tidak diterima penerbit. Yang penting, tulis, tulis, dan tulis. Suatu saat pasti berguna.


Di sarikan dari materi yang disampaikan oleh Bapak Agus direktur pemasaran penerbit Andi Jogja dalam kegiatan Belajar Menulis bersama Om Jay dan PGRI, Jumat (10/7/2020).


Mentok, 10 Juli  2020

Suryan Masrin 

Kamis, 09 Juli 2020

Writing Preneurship; Penulis Idealis Vs Penulis Industrialis

 



"Menulislah, maka engkau akan dikenang"

Suryan Masrin 


'Writing preneurship' 

Menulis buku yang diterima penerbit 


Salahkah seorang menjadi penulis idealis? Tentu tidak. Kemudian apakah salah seorang menjadi penulis yang industrialis? Juga tentu tidak. Nah, bagaimanakah penulis yang disukai oleh penerbit? Ya gabungan dari kedua-duanya.


Bagi orang yang memiliki uang lebih, menerbitkan buku itu hanya sekedar untuk memperkenalkan sesuatu atau branding saja. Bisa jadi, juga hanya sekedar mendokumentasikan sebuah momen atau sesuatu yang dijadikan sebagai kenangan yang nantinya dapat dilihat oleh anak cucu. Kalaupun itu laku dan menhasilkan uang, anggap saja itu sebagai bonus.


Bagi akademisi, publikasi atau menerbitkan sebuah karya itu orientasinya hanya pada profit, nirlaba (CSR/pengabdian), branding/promosi,  memenuhi regulasi/akreditasi dan lain sebagainya. Misalnya, bagi kalangan guru besar atau profesional sekadar mengasah pemikiran dan mempertahankan kepopuleran dan lain sebagainya. Atau juga bagi mereka yang penghobi, yang sekedar berbagi hasil karya yang mereka hasilkan dari sebuah hobi. Nah inilah yang disebut dengan penulis idealis. 



Sebaliknya, penulis yang industrialis adalah penulis yang memiliki barometer dengan nilai yang dihasilkan, salahsatunya royalti. Mereka menulis dengan tujuan untuk menghasilkan uang saja. Terkadang urusan ini tak menjadi hal utama. Yang terpenting diminati (laku) dan menghasilkan "uang".


Lalu bagaimana penulis yang disukai oleh penerbit? 


Penerbit tentu memiliki kriteria dalam mempublikasikan dan menerbitkan sebuah karya, tidak asal terbit saja. Pengabungan dari idealis dan industrialis merupakan hal yang disukai oleh kalangan penerbit. Yang terpenting para penulis tersebut telah memenuhi sistem penilaian yang berlaku di penerbit. 


Sistem penilaian naskah di dunia penerbitan secara umum mengacu kepada standar editorial dengan bobot +10%, peluang potensi pasar dengan bobot +50 %, keilmuan bobot +30 %, dan reputasi penulis bobot +10 %. Jika hal di atas telah terpenuhi, maka 99% naskah akan diterima dan dipublikasikan oleh penerbit. Memang tidak mudah untuk mencapai itu semua. Segala sesuatu itu butuh proses. Jika ingin yang instan, bisa menerbitkan dengan biaya sendiri.


Ciri-ciri penerbit yang baik


  1. Memiliki visi dan misi yang jelas

  2. Memiliki bussiness core lini produk tertentu 

  3. Pengalaman dalam dunia penerbitan

  4. Jaringan pemasaran yang luas

  5. Memiliki percetakan sendiri

  6. Berani mencetak jumlah eksemplar yang banyak

  7. Kejujuran dalam membayar royalti


Penghambat pertumbuhan industri penerbitan


Secara umum dipengaruhi oleh 3 aspek,  pertama; minta baca, yakni kurangnya budaya baca, kurangnya bahan bacaan dan kualitas bacaan. Kedua; minta tulis, yakni minimnya budaya tulis, tidak tahu prosedur menulis dan penerbitan serta anggapan yang salah tentang dunia penulisan dan penerbitan. Ketiga; apresiasi hak cipta, yakni maraknya pembajakan buku dan publikasi hasil karya, duplikasi non legal, dan lemahnya perangkat hukum yang berlaku.


Disarikan dari materi bapak Joko Irawan Mumpuni, Direktur Penerbit Andi Jogja, Ketua I Ikapi DIY, dan Asesor BNSP dalam kegiatan Belajar Menulis bersama Om Jay dan PGRI pada hari Rabu (8/7/2020).


Suryan Masrin 

Guru Bidin (1911-1978) Pegawai Negeri Pertama dari Kampung Peradong

  Guru Bidin atau guru Pidin adalah guru pertama di sekolah rakyat (SR) kampung Peradong. Nama lengkap beliau adalah Idin bin Sja'ban la...